Showing posts with label Sadis. Show all posts
Showing posts with label Sadis. Show all posts

Sunday, October 17, 2010

5 Metode Eksekusi Mati paling kejam

1. Bestiarii



Sebagai alat untuk menyiksa hukuman mati, mati oleh binatang buas adalah hukuman bagi musuh-musuh negara, kategori yang termasuk orang-orang tawanan dan budak dinyatakan bersalah kejahatan yang serius. Ini dikirim ke kematian mereka telanjang dan tidak mampu mempertahankan diri melawan binatang. Bahkan jika mereka berhasil membunuh satu, binatang segar terus-menerus dilepaskan pada mereka, sampai semua bestiarii mati. Hal ini melaporkan bahwa hal ini jarang diperlukan untuk dua binatang lain yang diperlukan untuk mencatat satu orang. Sebaliknya, salah satu binatang yang sering dikirim beberapa pria. Cicero menyebutkan satu singa yang sendirian dikirim 200 bestiarii.

2. Crushing



Kematian dengan menghancurkan atau menekan adalah metode eksekusi yang memiliki sejarah panjang di mana teknik yang digunakan sangat bervariasi dari satu tempat ke tempat lain. Bentuk eksekusi ini tidak lagi didukung oleh badan pemerintahan. Metode umum kematian di seluruh Selatan dan Asia Tenggara selama lebih dari 4.000 tahun ini menghancurkan oleh gajah. Romawi dan Carthaginians menggunakan metode ini sekali-sekali. Dalam mitologi Romawi, Tarpeia adalah seorang gadis Roma yang mengkhianati kota Roma ke Sabines sebagai imbalan atas apa yang dia pikir akan menjadi hadiah perhiasan. Dia bukannya dihancurkan sampai mati dan tubuhnya dilemparkan dari Tarpeian Rock yang sekarang beruang namanya. Kasus yang paling terkenal di Inggris Raya adalah Katolik Roma St Margaret Clitherow martir, yang ditekan mati pada tanggal 25 Maret 1586, setelah menolak untuk memohon dengan muatan memiliki harboured Katolik (kemudian dilarang) imam di rumahnya. Dia meninggal dalam waktu lima belas menit di bawah berat minimal £ 700. Satu-satunya executee dari menghancurkan dalam sejarah Amerika Giles Corey, yang ditekan mati pada September 19, 1692 pada penyihir Salem persidangan, setelah ia menolak untuk memasukkan permohonan dalam persidangan yudisial (digambarkan di atas).

3. Snake Pit



Lubang ular adalah sarana Eropa historis menerapkan hukuman mati. Narapidana dilemparkan ke dalam lubang yang dalam yang berisi ular berbisa, seperti ular beludak. Mereka meninggal dari keracunan bisa ular sebagai ular kesal menyerang mereka. Contoh pelaksanaan metode ini adalah bahwa dari panglima perang Viking Ragnar Lodbrok di 865, setelah pasukannya dikalahkan dalam pertempuran oleh Raja Ælle II dari Northumbria. Hukuman serupa muncul di Cina kuno selama Lima Dinasti dan Sepuluh Negara (907-960). Han selatan, salah satu negara bagian, dikenakan hukuman di mana seorang tahanan dilemparkan ke dalam kolam air yang mengandung ratusan ular berbisa. Segera tawanan itu dibunuh oleh puluhan gigitan ular. The geeks diantara kita juga akan ingat penampilan lubang ular dalam Raiders of The Lost Ark di Indiana Jones yang terperangkap ketika ia mencoba untuk mengambil Tabut Perjanjian.

4. Falling



Melempar atau menjatuhkan orang dari ketinggian yang besar telah digunakan sebagai bentuk eksekusi sejak zaman kuno. Orang-orang dihukum mati dengan cara ini mati dari luka-luka yang disebabkan oleh memukul tanah dengan kecepatan tinggi. Pada masa pra-Romawi Sardinia, orang-orang tua yang tidak mampu menghidupi diri sendiri adalah ritual dibunuh. Mereka mabuk dengan tanaman neurotoxic dikenal sebagai "sinis rempah" (yang menurut beberapa ilmuwan hemlock dropwort air) dan kemudian turun dari batu yang tinggi atau dipukuli sampai mati. Iran mungkin telah menggunakan bentuk ini eksekusi bagi kejahatan sodomi. Menurut Amnesty International, dua orang itu dihukum karena memperkosa dua mahasiswa dan dihukum mati. Mereka akan dilemparkan dari tebing atau dari ketinggian. Laki-laki lain yang terlibat dalam insiden ini adalah kalimat untuk bulu mata, mungkin karena mereka tidak melakukan penetrasi seks dengan para korban. Digambarkan di atas adalah Forum Romawi yang memiliki pemandangan bagus Gemonian tangga dari orang-orang yang dilemparkan ke kematian.

5. Premature Burial



Di Roma kuno seorang Vestal Virgin dihukum karena melanggar sumpah selibat nya adalah "dikubur hidup-hidup" dengan menjadi disegel di dalam sebuah gua dengan sejumlah kecil roti dan air, sehingga seolah-olah dewi Vesta dapat menyelamatkan dirinya seharusnya dia sudah benar-benar tidak bersalah. Dalam ke-17 dan awal abad 18 di feodal Rusia, modus yang sama eksekusi dikenal sebagai "pit" dan digunakan terhadap perempuan yang dihukum karena membunuh suami mereka. Kasus terakhir yang diketahui terjadi ini tahun 1740. Selama Perang Dunia II, tentara Jepang telah didokumentasikan warga sipil Cina dikubur hidup-hidup, terutama dalam Pembantaian Nanjing.

                                 Sumber: http://listverse.com/2009/09/23/10-m...-of-execution/

8 Eksperimen Tersadis di Dunia (dengan Manusia sebagai Kelinci Percobaannya)

1. Project 4.1


Project 4.1 adalah perancangan penelitian medis di AS yang dilakukan terhadap penduduk Marshall Islands. Mereka diarahkan untuk melakukan tes nuklir dengan cara menjatuhkan bahan radioaktif dari tanggal 1 Maret 1954 di Bikini Atoll, yang ternyata menghasilkan dampak dahsyat yang tak terduga sama sekali. Setelah satu dekade tes itu dilakukan, efeknya pun mulai nampak dan dikorelasikan dengan tes nuklir itu, yaitu meningkatnya keguguran dan matinya janin sebesar dua kali lipat di 5 tahun pertama setelah eksperimen itu, tetapi kemudian kembali normal lagi. Setelah 10 tahun, efek-efek lainnya bermunculan, anak-anak mereka menderita kanker Thyroid.

Departemen Energi mengatakan bahwasanya penduduk Marshall ternyata dijadikan tikus dalam percobaan tsb.

2. Project MKULTRA


Project MKULTRA atau MK-ULTRA adalah kode untuk program penelitian mind-control (pengendalian pikiran) yang dilakukan CIA, yang dimulai pada tahun 1950an dan dilanjutkan hingga akhir 1960an. Banyak yang mempublikasikan bahwasanya proyek itu dengan sembunyi-sembunyi menggunakan berbagai macam obat-obatan, untuk memanipulasi mental individual dan mengubah fungsi otak.

Eksperimen ini menggunakan LSD (sejenis obat-obatan) yang diberikan kepada pekerja CIA, personel militer, doktor, agen pemerintah, PSK, pasien kelainan mental dan anggota lainnya untuk mempelajari bagaimana reaksi mereka. LSD dan obatan lainnya diberikan tanpa adanya studi dan izin. Pelanggaran terhadap Nuremberg Code yang telah disetujui AS.

Usaha untuk “merekrut” objek penelitian yang telah disebutkan di atas pun ilegal, walaupun faktanya obat-obatan yang digunakan telah terdaftar. Pada Operasi Midnight Climax, CIA menyiapkan beberapa rumah pelacuran untuk memilih pria yang dalam hal ini dia sangat malu menceritakan tentang kejadian di rumah pelacuran tsb, berguna untuk merahasiakan hal itu. Kemudian pria itu diberikan LSD, dan rumah pelacuran tsb kemudian diambil gambarnya untuk difilmkan, guna penelitian lebih lanjut.

Pada tahun 1973, Direktur CIA, Richard Helms memerintahkan agar semua file MKULTRA dihancurkan. Sehingga menyebabkan investigasi terhadap kasus ini tidak dimungkinkan lagi untuk dilakukan.

3. The Aversion Project


Tentara apartheid Afrika Selatan memaksa prajurit lesbian dan gay kulit putih untuk menjalani operasi ‘sex-change’ pada tahun 1970an dan 1980an, menghukum mereka dengan cara dikebiri, kejutan listrik dan eksperimen medis lainnya. Walaupun jumlah pastinya tidak diketahui, ahli bedah dari tentara apartheid memperkirakan sebanyak 900 tentara dikerahkan untuk operasi ini sejak 1971 hingga 1989 di rumah sakit militer, sebagai bagian dari program top secret untuk menumpas homoseksual.

Psikiater tentara dibantu oleh pemimpin agama setempat dengan agresif “menguber-uber” tentara homoseksual, mengirim mereka satu per satu menuju unit psikiater militer. Bagi yang tidak bisa diobati dengan obat-obatan, shock terapi, pengobatan dengan hormon, dan maka akan dikebiri atau diganti alat kelaminnya.

4. North Korean Experimentation


Telah banyak yang melaporkan bahwa adanya eksperimen manusia terjadi di Korea Utara. Laporan kekejaman HAM ini menunjukkan adanaya kesamaan dengan eksperimen yang dilakukan oleh Nazi dan Jepun pada saat PD-II. Dugaan kekejaman HAM ini ditolak oleh pemerintah Korea Utara, yang mana mereka mengklaim bahwasanya tahanan di sana diperlakukan secara “manusiawi”.

Bekas tahanan wanita mengatakan bahwa di penjara 50 tahanan wanita yang sehat dipilih dan diberikan daun kol yang beracun, mereka harus memakannya walaupun mereka menolaknya dan menangis karena dipaksa. Kesemuanya dalam waktu 20 menit meninggal setelah muntah dan berak darah. Jika menolak untuk memakan daun kol itu akan menyebabkan keluarga mereka yang akan jadi sasaran.

Kwon Hyok, bekas kepala keamanan di Camp 22, menjelaskan adanya laboratorium yang dilengkapi dengan gas beracun, gas untuk membuat mati lemas dan eksperimen “darah” dari 3 atau 4 orang, mungkin satu keluarga yang dijadikan bahan eksperimen. Setelah menjalani pemeriksaan medis, bilik kemudian ditutup rapat dan racun diinjeksikan lewat sebuah tabung, dan para “ilmuwan” kemudian mengobservasi apa yang terjadi lewat kaca. Kwon Hyok mengatakan dia telah menyaksikan sendiri bagaimana satu keluarga yang terdiri dari satu ayah, satu ibu dan satu anak yang mati gara-gara gas, saat itu orang tuanya mencoba menyelamatkan nyawa anaknya dengan cara bernafas lewat mulut, walaupun ternyata itu sia-sia.

5. Poison laboratory of the Soviets


Laboratorium Racun (The Poison Laboratory) Sovyet yang sangat rahasia juga dikenal dengan nama Laboratory 1, Laboratory 2 dan “The Chamber”, yang merupakan fasilitas penelitian dan pengembangan racun milik agen polisi rahasia Sovyet. Mereka mengetes sejumlah racun mematikan dengan objek para tahanan dari Gulag (musuh masyarakat), racun tsb antara lain gas mustard, ricin, digitoxyn dan lain-lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan zat kimia yang tak berasa dan berbau yang tidak bisa terdeteksi oleh alat-alat tertentu. “Kandidat” racun diberikan kepada korban, lewat makanan dan minuman mereka, sebagai “obat”.

Dan berdasarkan testimoni para saksi mata, korban kemudian berubah secara fisik, mereka menjadi lebih pendek, cepat lelah, tenang, diam dan akhirnya mati dalam 15 menit. Mairanovsky menggunakan berbagai macam kondisi untuk para korbannya untuk mendapatkan gambaran yang berbeda-beda dari tiap racun.

6. The Tuskegee Syphilis Study


The Tuskegee Syphilis Study (penelitian Siphillis Tuskegee) terhadap pria Negro merupakan penelitian klinis yang dilakukan pada tahun 1932-1972 di Tuskegee, Alabama, AS, yang mana sebanyak 399 pria Afro-Amerika miskin (ditambah 201 orang - kelompok kontrol yang tidak mengidap siphillis) yang merupakan petani dan pastinya mengidap siphillis.

Penelitian ini kemudian menjadi kontroversial karena dilaksanakan tanpa adanya perlindungan HAM terhadap objek penelitian. Mereka yang didaftarkan di penelitian ini tidak diberikan informasi mengenai hasil diagnosa terhadap mereka, dan termasuk persetujuan untuk dijadikan bahan penelitian, bahkan mereka dikatakan memiliki darah yang kotor “bad blood” dan diiming-imingkan mendapatkan perawatan medis, kendaraan antar menuju klinik, makanan dan asuransi kematian. Pada tahun 1932, ketika penelitian ini dimulai, standar pengobatan untuk pengidap siphillis yang digunakan sangat beracun, berbahaya dan efektivitasnya dipertanyakan. Sebenarnya lebih baik para pasien pengidap penyakit kelamin tsb tidak ikut serta dalam penelitian berbahaya ini.

Di penghujung penelitian ini, hanya 74 orang yang tetap hidup. 28 meninggal langsung karena siphillis, 100 karena komplikasi, 40 istri mereka tertular penyakit ini, dan 19 anak mereka terlahir terkena penyakit siphillis bawaan.

7. Unit 731



Unit 731 merupakan penelitian biologi dan kimia rahasia dan merupakan unit pengembangan tentara imperial Jepun yang melakukan penelitian maut dengan objek manusia selama perang Sino-Japanese kedua (1937-1945) dan PD-II. Penelitian kontroversial ini bertanggung jawab atas adanya kriminalisasi dalam perang yang dilakukan oleh serdadu Jepun.

Sejumlah kekejaman tsb dilakukan atas komando dari Shiro Ishii, seperti vivisection (pembedahan hidup-hidup) termasuk di dalamnya dilakukan terhadap ibu hamil yang dihamili sendiri oleh dokter bedahnya, amputasi anggota tubuh para tahanan, pengangkatan bagian tubuh, membekukan bagian tubuh tersebut, dan kemudian mencairkannya kembali saat ingin diteliti. Manusia juga dijadikan objek tes granat dan pelempar api.

Para tahanan diinjeksikan virus penyakit, untuk penelitian vaksinasi, dan melihat bagaimana efeknya. Tahanan pria maupun wanita diinfeksikan penyakit siphillis dan gonorrhea (penyakit kelamin) lewat permerkosaan dan kemudian diteliti.

Hingga akhir hayatnya, Ishii belum pernah dipenjara atas kekejaman yang telah dilakukannya dan meninggal di usia 67 tahun karena kanker tenggorokan.



8. Nazi Experiments


Penelitian Nazi merupakan eksperimen medis terhadap banyak orang yang dilakukan oleh rezim Nazi Jerman di kamp konsentrasi selama PD-II. Di Auschwitz, di bawah arahan Dr. Eduard Wirths, menyeleksi penghuni kamp untuk dijadikan bahan penelitian untuk menolong personel militer Jerman, untuk memberikan pertolongan pengobatan terhadap personel yang terluka.


Eksperimen terhadap anak kembar di kamp konsentrasi juga dilakukan untuk meneliti bagaimana persamaan dan perbedaan genetik mereka, dan untuk melihat bagaimana tubuh manusia bisa “dimanipulasi”. Pimpinan pusat eksperimen adalah Dr. Josef Mengele, yang melakukan eksperimen terhadap lebih dari 1.500 tahanan kembar, yang hasilnya kurang dari 200 orang yang bisa bertahan hidup. Mereka diatur berdasarkan umur dan jenis kelamin dan menempatkan mereka di barak selama tes. Mata mereka diinjeksikan zat kimia yg berbeda untuk melihat perubahan warna yang terjadi.

Dan pada tahun 1942 Luftwaffe memimpin eksperimen untuk mengetahui bagaimana pengobatan hypothermia (penyakit karena kedinginan). Para objek penelitian yg dalam hal ini manusia dimasukkan ke dalam tanki berisi air es selama lebih dari 3 jam dan mereka melihatnya dari atas. Penelitian lainnya menempatkan para tahanan telanjang di tempat pendingunan selama beberapa jam .

Di antara Juli 1942 hingga September 1943. Eksperimen untuk menginvenstigasi efektivitas dari sulfonamida, agen antimikrobial sintetis, yang dipimpin oleh Ravensbruck. Luka pada objek manusia diinfeksikan bakteri Streptococcus, gas gangren dan tetanus. Sirkulasi darah dihentikan dengan cara memutuskan pembuluh darah di dekat luka untuk menciptakan kondisi yang sama di peperangan. Infeksi makin ditingkatkan dengan cara memasukkan serbuk kayu dan serbuk kaca ke dalam luka. Infeksi kemudian diobati menggunakan sulfonamida dan obat-obatan lainnya untuk membandingkan efektivitasnya.(Indowebster.web.id)
Related Posts with Thumbnails

Blog Archive

Bloggers - Meet Millions of Bloggers Lifestyle Blogs - Blog Rankings