Showing posts with label Gunung. Show all posts
Showing posts with label Gunung. Show all posts

Saturday, December 1, 2012

Pesona Tersembunyi Gunung Kilimanjaro

Gunung kilimanjaro adalah gunung yang sangat eksotis.Gunung ini berada di benua afrika yang persisnya terletak di negara Tanzania dekat perbatasan kenya.Setiap tahunnya para wisatawan datang ke Tanzania untuk melihat keindahan puncaknya yang seringkali di tutupi salju.Kilimanjaro adalah gunung tertinggi di benua afrika dengan ketinggian kira-kira 5900 meter.

Ada beberapa sebutan yang di buat masyarakat sekitar mengenai gunung kilimanjaro ini.Ada yang menyebut "Gunung yang sangat besar" adapula yang menyebut kilimanjaro yaitu gunung kafilah.Sebutan gunung kafilah muncul karena gunung kilimanjaro seperti mercu suar putih yang menyala yang dulunya bisa menuntun para kafilah melintasi pedalaman afrika yang di ketahui memiliki medan yang cukup sulit.




Gunung kilimanjaro bukanlah gunung biasa.Selain unik gunung ini ternyata sangat mengesankan, karena terdiri dari 3 puncak vulkanis.Kibo( Uhuru ) adalah puncak vulkanis yang pertama dan Mawenzi adalah puncak vulkanis kedua.Puncak Shira adalah puncak yang ketiga.Ketiga puncak ini menjulang tinggi di daerah Tanzania dan merupakan simbol dan kebanggaan bagi masyarakat sekitar.

Bila telah berada di bagian puncak, ada beberapa hal luar biasa yang ditemukan maupun dapat di rasakan.Udara yang bersih dan dingin,gletser dan lapisan es yang luas dan berwarna putih bersih, kontras yang indah dengan daerah gunung yang gelap. Udaranya tipis dan mengandung kira-kira setengah kadar oksigen pada ketinggian permukaan laut. 

Ukuran dan massa Gunung Kilimanjaro yang sangat besar memungkinkannya menciptakan iklimnya sendiri. Angin basah, yang bertiup dari Samudra Hindia melewati dataran rendah yang semikering, menabrak Kilimanjaro dan berbelok ke atas sehingga kemudian mengalami kondensasi dan menghasilkan curah hujan.Sehingga ini memungkinkan masyarakat sekitar bercocok tanam karena tanah yang subur.Salah satu hasil alam yang terkenal di Tanzania adalah palawija.

Monday, February 13, 2012

Keindahan Wisata Alam Gunung Rinjani


Indonesia tidak hanya memiliki tempat wisata dengan pemandangan indah, namun juga destinasi-destinasi petualangan yang dapat memuaskan pencinta alam. Salah satunya adalah Gunung Rinjani, yang berlokasi di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Gunung Rinjani merupakan gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia setelah Gunung Kerinci, dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut. Gunung Rinjani merupakan bagian dari Taman Nasional Gunung Rinjani, yang mendominasi sebagian besar pemandangan pulau Lombok. Tak mengherankan bila Rinjani menjadi salah satu destinasi wisata unggulan 2012 yang dirilis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Untuk mendaki Gunung Rinjani, ada beberapa jalur pendakian. Bagi pemula disarankan untuk mendaki melewati jalur Sembalun Lawang karena mudah dijangkau dengan transportasi umum. Selama perjalanan menuju Sembalun Lawang, pendaki akan disuguhi pemandangan indah dari ngarai hijau yang hingga kini masih dihuni suku Sasak Tradisional, suku asli Pulau Lombok.




Saat tiba di Sembalun Lawang, pendaki wajib mendaftarkan diri sebelum memulai perjalanan. Disini juga tersedia jasa pemandu, porter, dan penyewaan peralatan serta perbekalan untuk mendaki gunung.

"Pendakian Rinjani dari Sembalun Lawang bisa dilakukan dalam jangka waktu dua hari satu malam hingga satu minggu, sesuai keinginan wisatawan," tutur Bohari, seorang pemandu dan porter Gunung Rinjani, seperti dikutip okezone dari blog-nya, trekkingrinjani. "Saat sebelum pendakian, sangat penting untuk memersiapkan stamina dan juga perbekalan, karena medan yang akan ditempuh cukup berat," lanjutnya.

Setelah melapor pada pos jaga taman nasional di Senaru, perjalanan diawali dengan melewati perkebunan penduduk dan mulai memasuki hutan. Setelah melewati tiga pos dengan jarak tempuh sekira lima jam, dari pos 3 (Mondokon Lolak) yang berada pada ketingian 2000 meter di atas permukaan laut dapat dilihat pos Pelawangan Senaru setelah berjalan selama dua jam.

Di pelawangan Senaru bisa dilihat Segara Anak dan Puncak Rinjani. Di sebelah barat puncak Rinjani terdapat kaldera yang memiliki sebuah danau bernama Danau Segara Anak dengan kedalaman 230 meter. Air yang mengalir dari danau ini membentuk air terjun yang sangat indah, mengalir melewati jurang yang curam.

Danau ini berisi banyak ikan seperti ikan mas, nilam dan mujair, membuatnya menjadi tempat pemancingan warga setempat. Di dekat danau ada anak Gunung Rinjani yang memiliki sumber air panas yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kulit. Dari arah danau untuk mencapai puncak Rinjani, kita kembali menuju Pelawangan Senaru, yang merupakan camp terakhir.

“Biasanya disini pendaki akan menginap semalam, baru kemudian pagi harinya sekitar jam 2 pagi melanjutkan perjalanan menuju puncak,” tutur Bohari.

Hal ini untuk mengejar waktu melihat matahari terbit yang indah di puncak Rinjani. “Yang membuat istimewa dari puncak Rinjani adalah saat melihat matahari terbit di puncaknya, juga terlihat laut dan pulau Lombok,” tutur Robby, seorang pendaki yang kerap menyambangi Rinjani saat dihubungi okezone, beberapa waktu lalu.

“Bagi para pendaki Gunung Rinjani sebaiknya pada bulan April, Mei, Juni, Juli, Agustus September, dan sampai pada awal November. Bila pada musim hujan, saya tidak mengambil risiko jalur sangat licin dan saya harap dibatalkan,” saran Bohari.

Ia juga mengingatkan sebaiknya pendaki Gunung Rinjani di atas umur 10 tahun karena di bawah umur 10 tahun dengan ketinggian 2.600 meter suasana udara sangat padat dan tidak diperkenankan para pendaki penyakit jantung dan vertigo indikasi (daya tarik bumi bila melihat jurang ada rasa takut).

Sumber : travel.okezone.com

Thursday, December 15, 2011

Krakatau - Gunung Api Terpopuler di Indonesia


Gunung Krakatau barangkali merupakan gunung api Indonesia terpopuler di dunia. Bibliografi yang dibuat Brodie dan Kusumadinata pada 1982 mencatat 1.083 karangan telah dibuat terkait letusan Krakatau. Hingga kini, publikasi tentang Krakatau terus berlangsung, terutama karena Anak Krakatau yang tumbuh cepat dan sangat aktif.

Krakatau mendapatkan reputasinya terutama karena letusannya yang hebat tahun 1883. Selain itu, juga karena saat itu dunia baru menemukan alat komunikasi telegram sehingga kabar tentang letusan Gunung Krakatau dengan cepat tersebar dan menjadi berita hangat di sejumlah koran dunia.

Tak hanya dikaji secara ilmiah, Gunung Krakatau juga menjadi sumber inspirasi karya sastra (kebanyakan ditulis orang Eropa), lukis, hingga film. Suryadi dalam pengantar bukunya, Syair Lampung Karam (2009), menyebut beberapa sastrawan Eropa yang terinspirasi Krakatau dalam karyanya, seperti Ballantyne (1889), Raabe (1930), MacLean (1958), Furneaux (1964), Jacquemard (1969), dan Avalone (1969).

Gunung Krakatau
Adapun beberapa film yang terinspirasi Krakatau di antaranya dibuat oleh Teaching Film Custondians (1933), Twentieth Century-Fox, Joe Rock Productions (1966). Belakangan ada juga film Krakatoa East of Java yang diproduksi American Broadcasting Companies Inc, dan juga film drama dokumenter yang diproduksi kantor berita Inggris, BBC, berjudul Krakatoa The Last Days (2006). National Geographic dan beberapa stasiun televisi asing juga berkali-kali membuat film dokumenter soal Gunung Krakatau.

Dibandingkan dengan karya orang luar, karya ilmiah, sastra, ataupun film yang dibuat masyarakat Nusantara nyaris tidak ada. Kitab Raja Purwa yang dibuat Ronggowarsito tahun 1869 merupakan yang tertua yang mengisahkan Gunung Krakatau, yang dalam bukunya disebut Gunung Kapi.

Belakangan, ditemukan kembali Syair Lampung Karam, yaitu kesaksian pribumi soal letusan Gunung Krakatau pada 1883 yang ditulis dalam bahasa Melayu dan beraksara Arab. Suryadi, pengajar di Universitas Leiden, Belanda, menemukan syair ini dalam tumpukan arsip di kampusnya. Lelaki asal Sumatera Barat ini kemudian mengalihaksarakan dan menerbitkannya tahun 2009. Dia menyebut catatan ini sebagai salah satu kesaksian pribumi yang paling awal dan penting, tetapi kerap dilewatkan.

Sumber : sains.kompas.com

Friday, November 5, 2010

Makin Halus Abu Vulkanik, Makin Bahaya

 Abu vulkanik akibat letusan Gunung Merapi yang menghujani kawasan Yogyakarta dan sekitarnya semakin menebal. Ini jelas menjadi ancaman serius bagi warga yang bermukim di sana.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), paparan abu vulkanik sangat membahayakan warga yang mengirupnya. Ancaman paling umum adalah gangguan pernapasan.

Berdasar paparan WHO saat terjadi letusan Gunung Eyjafjallajökull di Islandia lalu, abu vulkanik gunung berapi umumnya terdiri dari partikel fragmen batuan halus, mineral, dan kaca dengan karakter keras, kasar, korosif dan tidak larut dalam air.

Partikel abu sangat kecil sehingga mudah tertiup angin hingga ribuan kilometer. Yang paling berpotensi merusak tubuh adalah partikel abu terkecil yang mencapai kurang dari 1/100 milimeter. Ini berbahaya karena mudah menembus masker kain dan masuk ke paru-paru.

Seseorang dengan bronkhitis, emfisema dan asma disarankan mengurangi aktivitas di luar ruang karena paparan abu vulkanik bisa memperparah gangguan kesehatan.

WHO mengatakan, konsentrasi abu vulkanik setiap gunung berapi berbeda, tergantung kondisi alam seperti suhu udara dan angin. "Saran kami adalah mendengarkan insruksi kesehatan pejabat setempat," kata Dr Maria Neira, Direktur Department Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan WHO.

"Jika mengalami iritasi atau sakit di tenggorokan dan paru-paru, pilek, atau mata gatal, sebaiknya segera kembali rumah dan membatasi kegiatan di luar ruang," Neira menambahkan.

Selain partikel berbahaya, abu vulkanik juga berpotensi mengandung gas belerang dioksida dalam kadar rendah. Itulah mengapa ketika mulai mencium aroma belerang, sangat disarankan segera menjauh dari kawasan tersebut.(vivanews.com)

Wednesday, November 3, 2010

Inilah Macam-macam Gunung Api Berbahaya di Dunia


Jakarta - Gunung api memiliki beragam ukuran dan bentuk tergantung lokasi terbentuknya. Faktor geologi mempengaruhi berbagai macam-macam gunung api ini.

Stratovolcano
Banyak gunung api terletak pada barisan Cascade masuk dalam kategori ini. Gunung St. Helen, Hood, dan Ranier merupakan contoh klasiknya.
Contoh lain di seluruh dunia, termasuk Pinatubo di Filipina dan Tungurahua di Ekuador. Gunung tipe ini biasanya memiliki sisi curam yang tercipta karena lava dan aliran pyroclastic dari aktivitasnya bertahun-tahun, dekade atau abad. Biasanya terdapat ventilasi tengah dekat puncak gunungnya. Stratovolcano seringkali disebut juga sebagai gunung api komposit.

Kaldera
Kaldera tercipta saat ruang magma besar terbentuk di bawah permukaan bumi diikuti sebuah letusan. Selama letusan, ruang magma menjadi kosong dan runtuh meninggalkan depresi pada lanskap. Besar kaldera yaitu beberapa mil hingga 10 mil (16 km) atau bahkan lebih besar. Kaldera terbesar di dunia yaitu Kaldera Yellowstone yang tercipta akibat serangkaian runtuhan ruang magma. Kaldera lain dapat ditemukan di Long Valley, California. Kaldera lazim ditemukan di Islandia, Eropa dan Afrika.

Perisai
Gunung api perisai tak memiliki lereng curam seperti stratovolcano. Gunung api ini terbentuk dari aliran lava di sepanjang retakan di bumi. Gunung api perisai umumnya terbentuk bersama dengan retakan di titik panas kerak bumi. Serangkaian gunung api di sepanjang retakan memiliki perisai dan struktur kerucut abu. Rangkaian Kepulauan Hawaii memiliki gunung tipe ini, termasuk gunung Mauna Loa dan Kilauea.

Campuran
Ketika banyak ventilasi mencapai permukaan, gunung api memiliki banyak karakteristik. Gunung api ini diklasifikasikan dalam gunung api campuran. Struktur gunung ini terbentuk pada waktu yang berbeda-beda. Contohnya, letusan pada satu ventilasi menciptakan perisai atau kerucur, sementara ventilasi lainnya menciptakan stratovolcano. Gunung Pacaya di Guatemala memiliki beberapa puncak dan pada setiap bentuknya memiliki stratovolcano dan kerucut. Gunung ini aktif memproduksi abu dan lava sejak 1965.

Renggang
Lempeng tektonik secara literal mengambang pada mantel bumi membentuk kerak. Lempeng ini saling mendorong di beberapa wilayah, namun di wilayah lain akan saling menjauh. Area di mana tektonik saling menjauh disebut gunung api renggang. Renggangan dapat membentuk retakan sepanjang permukaan bumi. Ventilasi yang ada berhubungan dengan gunung renggang di sepanjang permukaan bumi. Area renggangan dominan terjadi di dasar laut Mid Atlantic Ridge. Sepanjang pegunungan ini, lava didorong keluar menciptakan pegunungan di bawah Samudera Atlantik. Gunung tipe ini banyak dijumpai di Islandia.

Gunung Meja
Gunung ini merupakan hasil letusan gunung di bawah gletser. Gunung ini terbentuk dari lava dan gas menghasilkan gunung dengan bentuk hampir seperti kubus. Contoh klasik gunung meja adalah Herdubreid di Islandia. Gunung ini pernah meletus 10 ribu tahun silam ketika terjadi retakan di bawah es.

Kerucut Sinder dan Tuff
Kerucut sinder terbentuk ketika scoria (lava ) keluar selama letusan, dan mendingin saat keluar dari ventilasi. Scoria biasanya berpori dan ringan. Kerucut Tuff terbentuk dari letusan gunung yang mengeluarkan abu dan batu apung. Gunung Paricutin di Mexico merupakan kerucut sinder. Paricutin muncul pada Februari 1943. Dalam hitungan hari, kerucut sinder setinggi 100 kaki (30,5 meter) tercipta dan letusan terus berlanjut. Gunung terus meletus hingga 1952, ketika letusan reda, gunung baru setinggi 1.300 kaki (396 m) pun terbentuk.(Inilah.com)

Monday, November 1, 2010

Fenomena Alam!! Awan Petruk di Merapi

 Senin pagi, sebelum Merapi meletus untuk keempatnya, penampakan awan aneh terlihat di puncak di gunung itu.
Awan putih membentuk sosok berhidung panjang, mirip tokoh punakawan, Petruk.

Adalah Suswanto, warga Srumbung Magelang yang mengambil foto aneh itu. Dengan cepat gambar menyebar dan membuat heboh warga di pengungsian. Menurut warga, itu adalah petanda, Merapi akan kembali muntab dengan kekuatan yang lebih besar.

Dan, arah hidung Petruk yang menunjuk Selatan dianggap tanda, bahwa wilayah itu akan mengalami kerusakan paling parah.

Dikonfirmasi, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandrio menyatakan kemunculan awan bukan penanda ilmiah yang digunakan untuk memprediksi aktivitas Merapi.

"Jelas bukan," kata Subandrio saat dihubungi VIVAnews, Senin malam, 1 November 2010.

Meski demikian, Subandrio mengaku pihaknya memahami banyak cerita mistis yang beredar di masyarakat.
"Kami memahami keyakinan mereka, tak menyalahkan. Itu belum hilang di masyarakat, termasuk masyarakat Selatan, masyarakat Utara dengan berbagai versi," tambah dia.

Cerita yang beredar ini adalah tantangan mitigasi bencana dari aspek sosial.
"Tentang bagaimana mengubah pandangan masyarakat menjadi rasional, didasari ilmu pengetahuan. Ini tidak mudah," tambah dia.

Ke depan, tambah Subandrio, masyarakat akan diberi penjelasan tentang dampak meletusnya Gunung Merapi, dari berbagai skrenario.
Sekadar diketahui, Mbah Petruk diyakini masyarakat setempat sebagai penunggu kawah Gunung Merapi.

Muji, pemantau Merapi, mengatakanm cerita awan Petruk tidak hanya beredar kali ini. "Dulu tahun 2006 juga ada seperti itu, tapi saya tidak lihat sendiri. Saya hanya mantau selama 20 hari waktu itu," kata dia saat dihubungi terpisah.(Vivanews.com)

Saturday, October 30, 2010

Melihat Dahsyatnya Letusan Gunung Tambora



Sebagian dari kita tentu belum tahu kalau Gunung Tambora pernah tercatat sebagai gunung api tertinggi di Indonesia. Itu terjadi sebelum gunung tersebut meletus dahsyat pada April 1815.

Ketika itu puncak Gunung Tambora mencapai ketinggian sekitar 4.300 meter di atas permukaan laut (dpl). Bandingkan dengan daratan tertinggi di Indonesia saat ini, yakni Puncak Jayawijaya, Papua, yang berketinggian sekitar 3.050 m dpl.

Usai Tambora meletus hebat, daratan di bagian puncak itu dimuntahkan ke berbagai arah. Akibatnya, ketinggian gunung api yang masih tersisa tinggal setengahnya, yakni sekitar 2.851 m dpl.

Letusan yang amat mengerikan itu juga menyisakan sebuah kaldera yang sangat besar. Bahkan, menurut catatan, ukuran kaldera tersebut paling luas di Indonesia. Bayangkan, kaldera tersebut memiliki diameter sekitar 7 km, panjang maksimal 16 km, dan kedalaman 1,5 km.

Kini, gunung api yang secara administratif berada di dua kabupaten; Dompu dan Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) itu meninggalkan kisah ajaib, bukan saja di Indonesia namun juga berdampak hingga ke berbagai penjuru dunia.


Sangat Mencekam

Tragedi itu bermula pada awal April 1815. Ketika itu kawasan di sekitar Gunung Tambora mulai bergetar. Getaran itu semakin menguat pada 10 April 1815, pukul 19.00 waktu setempat. Sejak saat itu hingga lima hari, ledakan Gunung Tambora mencapai klimaksnya.

Pada malam hari, dari kejauhan Tambora memang benar-benar terang benderang lantaran api yang terus memancar dari puncak gunung tersebut. Suasananya sangat mencekam. Gunung itu seolah berubah menjadi aliran api yang sangat besar.

Pada saat bersamaan, letusan itu juga memuntahkan gas panas, abu vulkanik, dan batu-batu ke arah bawah sejauh 20 km hingga ke laut. Desa-desa di sekitar Tambora pun musnah dilalap aliran piroklastik tersebut.

Menurut Haris Firdaus dalam bukunya berjudul Misteri-misteri Terbesar Indonesia (2008), tiga kerajaan kecil hangus dan hancur terkena lahar dan material letusan Gunung Tambora. Ketiga kerajaan itu adalah Pekat yang berjarak sekitar 30 km sebelah barat dari Tambora. Lalu, Kerajaan Sanggar berjarak 35 km sebelah timur Tambora, dan Kerajaan Tambora berjarak 25 km dari gunung tersebut.



Hampir semua penghuni di tiga kerajaan tersebut tewas. Hanya dua orang yang berhasil selamat. Padahal, lokasi ketiga kerajaan itu tadinya sudah diusahakan cukup aman dari dampak letusan gunung api.

Letusan Gunung Tambora juga membawa material longsoran yang sangat besar ke laut. Longsoran itu menimbulkan tsunami di berbagai pantai di Indonesia seperti Bima, Jawa Timur, dan Maluku. Ketinggian tsunami tersebut ditaksir mencapai 4 meter.

Bukan hanya itu, ledakan dahsyat tersebut juga menebarkan abu vulkanik hingga ke Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Bahkan bau nitrat juga tercium hingga ke Batavia (kini Jakarta). Hujan besar disertai jatuhnya abu juga terjadi.

Menurut para geolog, letusan itu merupakan bencana alam terbesar sepanjang sejarah. Bayangkan, dibandingkan dengan letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada Agustus 1883, ledakan Gunung Tambora lebih dahsat empat kali lipatnya.



Letusan Gunung Tambora itu terdengar hingga ke Pulau Sumatera, Makassar, dan Ternate sejauh 2.600 km. Abunya juga diterbangkan sejauh 1.300 km dengan ketinggian 44 km dari permukaan tanah. Volume debu ditaksir mencapai 400 km3.

Saking tebalnya debu-debu yang berterbangan di langit, sepanjang daerah dengan radius 600 km dari gunung tersebut terlihat gelap gulita selama dua hari. Maklum, sinar matahari tak mampu menembus tebalnya abu-abu tadi.

Daerah paling menderita tentu saja yang berdekatan dengan lokasi Gunung Tambora. Menurut ahli botani Swis, Heinrich Zollinger, dalam seketika letusan ini menewaskan sekitar 10.000 orang.

Setelah itu, jumlah kematian karena kelaparan di Sumbawa mencapai 38.000 orang dan di Lombok 10.000 orang. Sumber lain menyebutkan, letusan itu telah menyusutkan populasi penduduk Sumbawa hingga tersisa hanya 85.000 orang.

Jumlah Korban Meluas

Bukan hanya itu. Jumlah korban tewas juga meluas hingga ke Pulau Bali, yakni mencapai 10.000 orang. Dampak berikutnya, sebanyak 49.000 orang tewas karena penyakit dan kelaparan.

Mengapa terjadi bencana kelaparan yang berkepanjangan? Ada beberapa alasan. Pertama, semua tumbuhan di Pulau Sumbawa ketika itu hancur total akibat tertutup abu tebal dan dilalap api.

Kedua, selama dua minggu awan tebal masih menyelimuti daerah-daerah di sekitar Gunung Tambora, termasuk Bali. Dampaknya, banyak tanaman budidaya hancur dan gagal panen.

Ketiga, partikel-partikel abu itu dalam jangka waktu lama masih berada di atmofer dengan ketinggian 10 – 30 km. Akibatnya, siklus iklim menjadi tak menentu dan petani pun tidak bisa memanen tanaman budidayanya.

Kekacauan iklim juga melanda kawasan Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada. Setahun setelah letusan itu, pada 1816, kawasan tersebut mengalami tahun tanpa musim panas. Cuaca di kawasan tersebut berubah total. Maklum, partikel abu tadi masih membungkus atmosfer bumi sehingga menghalangi sinar matahari menerobos ke permukaan tanah.

Paceklik pun melanda Kanada, AS, Inggris, dan lain-lain. Udara beku yang terjadi di negara-negara tersebut menghapuskan impian para petani. Penduduk pun kekurangan bahan makanan.

Dampak terparah dialami Irlandia. Di sana curah hujan dingin terjadi hampir sepanjang musim panas. Sekitar 65.000 orang mati kelaparan dan terkena wabah tipus. Wabah ini lalu menyebar ke Eropa dan menewaskan 200.000 orang.

Letusan Gunung Tambora memang tragis. Letusan itu melenyapkan ratusan ribu manusia, baik mereka yang terkena dampak langsung maupun tak langsung. Kisah memilukan ini sesuai dengan nama Tambora yang berasal dari dua kata; ta dan mbora yang berarti ajakan menghilang.

Menurut mitos yang berkembang, masyarakat di sekitar gunung percaya, kabarnya ada sekitar 4.500 pendaki, pemburu, dan penjelajah yang hilang. Mereka itu tak pernah ditemukan di Gunung Tambora yang kini diselimuti hutan dengan aneka bunga anggrek yang sangat mempesona.

NAPOLEON, RAFFLES, dan TAMBORA

Letusan hebat Gunung Tambora pada April 1815 bukan saja melumat dan meluluhlantakkan tiga kerajaan kecil di Pulau Sumbawa. Lebih dari itu, nun jauh di daratan Eropa, tepatnya di Belgia, pasukan tentara di bawah komando penguasa Prancis, Jenderal Napoleon Bonaparte harus bertekuk lutut di tangan Inggris dan Prussia.

Ya, tiga hari setelah Tambora meletus dahsyat, tepatnya pada 18 Juni 1815, pasukan Napolean terjebak musuh. Pasalnya, di sepanjang hari itu cuaca memburuk. Hujan terus mengguyur kawasan tersebut. Padahal, tentara Prancis itu sedang menuju laga pertempuran.

Akibat cuaca buruk, roda kereta penghela meriam terjebak lumpur. Semua kendaraan tak bisa melaju dengan mulus. Tanahnya licin, berselimutkan salju. Maklum, abu tebal dari letusan Gunung Tambora masih bertebaran di atmosfer sehingga menghalangi sinar matahari yang jatuh ke bumi.

Perang Waterloo itu menjadi kisah tragis bagi Napoleon. Kehebatan Napoleon dalam menundukkan musuh-musuhnya berakhir sudah. Ia pun menyerah kalah. Jenderal itu lalu dibuang ke Pulau Saint Helena, sebuah pulau kecil di selatan Samudra Atlantik. Di pulau terpencil itulah ia menghabiskan waktunya hingga meninggal dunia pada 1821 akibat serangan kanker.

Kenneth Spink, seorang pakar geologi berteori, bahwa cuaca buruk akibat letusan Gunung Tambora menjadi salah satu pemicu kekalahan Napoleon. Pada pertemuan ilmiah tentang Applied Geosciences di Warwick, Inggris (1996), Spink mengatakan bahwa letusan Gunung Tambora telah berdampak besar terhadap tatanan iklim dunia kala itu, termasuk cuaca buruk di Waterloo pada Juni 1815.

Di Yogyakarta, letusan Tambora mengagetkan Thomas Stamford Raffles. Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa yang berkuasa pada tahun 1811-1816 itu tadinya mengira ledakan itu berasal dari suara tembakan meriam musuh. Wajar saja demikian karena ketika itu teknologi komunikasi (telegram) memang belum tercipta sehingga letusan itu tak bisa disampaikan ke berbagai penjuru daerah dalam waktu yang relatif cepat.

Takut diserang musuh, Raffles pun lalu mengirim tentara ke pos-pos jaga di sepanjang pesisir untuk siap siaga. Perahu-perahu pun disiagakan. Apa boleh buat, dugaan Raffles keliru. Tak ada serangan musuh.(ngobrolaja.com)

Friday, October 29, 2010

Letusan Gunung Paling Dahsyat di Dunia

Letusan Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta pada Selasa lalu ternyata tidak seberapa bila dibandingkan dengan letusan gunung-gunung lain.

Sebuah laman yang mempublikasikan gunung-gunung berapi di dunia, famousvolcanoes.net mencatat letusan gunung terdahyat di dunia. Berikut gunung-gunungnya:

Vesuvius, ItaliaGunung VesuviusDi antara gunung api dengan letusan terdahsyat diantaranya Vesevius di Napoli, Italia. Letusan pertamanya terjadi pada tahun 79 Masehi yang mengubur kota Pompeii dan Herculaneum dengan lava panas. Letusan yang terjadi lebih dari 20 jam itu menewaskan lebih dari 3 ribu orang.

Setelah itu, Vesuvius berkali-kali meletus. Salah satunya pada 1631 yang menewaskan 4 ribu orang. Sedangkan terakhir meletus pada 1944.

Tambora, IndonesiaFoto lawas dampak letusan Tambora di Amerika SerikatSaat Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat meletus pada April 1815, suaranya terdengar hingga Sumatera. Abu vulkaniknya jatuh hingga Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Maluku. Lebih dari 71 orang meninggal akibat letusan tersebut.

Panas yang menyembur melubangi atmosfer dan menyebabkan perubahan iklim sementara. Saat itu dikenal dengan tahun tanpa panas. Dua badai salju besar pada Juni terjadi di Kanada. Kondisi ini menyebabkan gagal panen di sejumlah benua dan memicu musibah kelaparan terburuk di awal abad ke 19.

Krakatau, IndonesiaAnak Gunung Krakatau Gunung yang berada di Selat Sunda Provinsi Lampung ini meletus pada 1883. Suaranya terdengar hingga puluhan ribu kilometer. Kedahsyatan ledakan diperkirakan mencapai ribuan kali bom atom yang diledakkan di Hirosima dan Nagasaki, Jepang.

Tak hanya awan panas, letusan ini juga mengakibatkan tsunami besar di Sumatera dan Jawa. Lebih dari 36 ribu orang  meninggal saat itu.

St Helens Gunung ini paling terkenal akan letusannya yang terjadi pada 18 Mei 1980. Letusan tersebut merupakan letusan gunung berapi terparah baik dari segi kekuatan letusan maupun kerugian ekonomi sepanjang sejarah Amerika Serikat.

57 orang tewas, dan puncak gunung berkurang dari 2.950 meter menjadi 2.550 m. Lokasi letusan kini menjadi kawasan Monumen Nasional Gunung Berapi Gunung St. Helens.

Mauna LoaAdalah gunung berapi teraktif di dunia. Salah satu dari lima gunung ini membentuk Pulau Hawaii, Amerika Serikat, di Samudera Pasifik. Sejak 1843, Mauna Loa telah meletus 33 kali, terakhir pada tahun 1984.(vivanews.com)

Thursday, October 28, 2010

Ponimin, Calon Pengganti Mbah Maridjan

 Yogyakarta -Teka-teki pengganti Mbah Maridjan, juru kunci Merapi yang meninggal akibat amukan wedhus gembel (awan panas), mulai terkuak. Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas meminta Ponimin menjadi juru kunci Merapi menggantikan Mbah Maridjan.

“Kowe saiki sing tunggu Merapi (kamu sekarang yang menunggu Merapi),” kata GKR Hemas saat mengunjungi Ponimin di rumah pengungsiannya di Dusun Ngenthak, Kelurahan Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Sleman, Kamis (28/10) siang.

Namun, permintaan GKR Hemas itu tidak langsung disanggupi oleh Ponimin. “Kula dereng saged matur sakmenika (saya belum bisa menjawab saat ini),” kata Ponimin. “Yo wis, kuwi dirembug mengko (ya sudah, nanti dibicarakan lain waktu),” kata GKR Hemas.

Selama hampir satu jam GKR Hemas beserta beberapa anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mengunjungi Ponimin. GKR Hemas ingin mendengarkan langsung kisah Ponimin dan keluarganya yang berhasil selamat dari amukan wedhus gembel saat Merapi meletus, Selasa (26/10) petang.

Ponimin beserta istri dan anak-anaknya secara ajaib bisa selamat dari terjangan awan panas Merapi. Sementara Mbah Maridjan dan sejumlah orang yang berlindung di rumah juru kunci Merapi itu tewas akibat terjangan awan panas Merapi. Padahal, rumah Ponimin dan rumah Mbah Maridjan relatif berdekatan. Rumah Ponimin berada di sebelah timur, sekitar 100 meter dari rumah Mbah Maridjan.

Ponimin berserta istri dan anak-anaknya berlindung di balik rukuh (mukena) saat awan panas menerjang dusun Kinahrejo. Rumahnya hancur, namun Ponimin beserta istri dan anak-anaknya selamat. Ponimin hanya menderita luka bakar di telapak kaki dan salah satu anaknya menderita luka bakar di siku kanan.

Setelah berhasil keluar dari rumah, Ponimin sempat dilarikan ke rumah sakit Panti Nugroho, Pakem, Selasa (26/10) malam. Namun, keesokan harinya Ponimin dan keluarga memilih mengungsi di rumah dokter Anna Ratih Wardhani di Dusun Ngenthak, Kelurahan Umbulmartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman hingga saat ini.

Selama mengungsi, dokter Anna merawat luka bakar di telapak kaki Ponimin. Akibat kedua telapak kakinya yang melepuh, Ponimin hingga saat ini hanya bisa duduk dan berbaring di kasur.

Di depan GKR Hemas, Ponimin juga mengaku mendapat informasi secara gaib tentang letusan Merapi. Menurut Ponimin, makhluk gaib itu bahkan memberitahu bahwa awan panas akan menerjang rumah Mbah Maridjan. Ponimin juga mengatakan Merapi masih akan meletus lagi.

“Yo wis, nek ana apa-apa, matur wae ke kraton yo (ya sudah, kalau ada apa-apa, segera lapor ke kraton),” pinta GKR Hemas. Ponimin kemudian menganggukkan kepala.

Ponimin sebenarnya juga abdi dalem berpangkat jajar (pangkat paling rendah) dengan gelar Surakso Ponihardja. Namun pada 2006 ia menyatakan mundur sebagai abdi dalem karena kecewa dengan kraton dan berseteru dengan Mbah Maridjan.

Ponimin merasa dikhianati oleh Mbah Maridjan saat dikontrak sebagai bintang iklan perusahaan jamu terkenal. Menurut Ponimin, kesepakatan awal ia dilibatkan dalam iklan produk minuman suplemen dari perusahaan. Namun belakangan ia tidak dilibatkan. Sejak saat itu Ponimin tidak lagi mau bertegur sapa dengan Mbah Maridjan.(TempoInteraktif.com)

Tuesday, October 26, 2010

FOTO: Letusan Merapi Bidikan NASA

Gunung paling aktif di dunia, Merapi, saat ini sedang menggeliat. Masyarakat  cemas menunggu, apakah ia akan meletus dan mengirimkan malapetaka berikutnya. Apalagi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVG) telah meningkatkan status Merapi menjadi Awas, terhitung sejak Senin 25 Oktober 2010.
Sejarah mencatat, sejak tahun 1548, Merapi sudah meletus sebanyak 68 kali--dengan letusan-letusan kecil terjadi tiap  2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan dahsyat pernah terjadi antara lain tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930.

Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu. Di tahun 1930, letusan Merapi menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1.370 orang.

Letusan terakhir Merapi terjadi tahun 2006 lalu. Pada 4 Juni 2006, dilaporkan bahwa aktivitas Gunung Merapi telah melampaui status 'awas'.

Foto letusan Merapi 6 Juni 2006

Kemudian pada 8 Juni 2006, Gunung Merapi pada pukul 09:03 WIB meletus dengan menyemburkan awan panas yang membuat ribuan warga di wilayah lereng panik dan melarikan diri ke tempat aman.

Fenomena letusan Merapi tak luput dari pantauan NASA. Badan Antariksa AS ini merekam kondisi Merapi melalui foto satelit. Foto pertama direkam alat Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer (ASTER) di satelit Terra milik NASA  pada 26 April 2006.
Foto Merapi tanggal 26 April 2006

Foto itu menunjukkan awan panas muncul dari puncak Merapi, yang dikelilingi lava hitam dan puing-puing hasil erupsi sebelumnya. Lereng gunung tampak berwarna merah.

Foto kedua pada 6 Juni 2010 juga merupakan hasil bidikan ASTER. Warna merah dalam foto mengindikasikan vegetasi dan yang lebih cerah adalah tumbuhan. Awan digambarkan dengan warna terang atau putih buram. Sementara, awan vulkanis tampak berwarna kelabu suram yang bertiup ke arah barat daya.(vivanews.com)

Saturday, September 18, 2010

10 Gunung paling berbahaya untuk didaki

1. Annapurna, Central Nepal (26,545 ft.)



Gunung ini gunung tertinggi ke-10 di dunia. 130 pendaki sudah pernah memanjat sampai ke puncaknya yang rawan longsor. Tapi 53 pendaki sudah tewas saat mencobanya, membuat tingkat kematian di Annapurna mencapai 41% atau yang tertinggi di dunia.

2. Nanga Parbat, Kashmir (26,657 ft.)



Sering dijuluki "The Man Eater", gunung dengan sisi tajam di Kashmir ini terdiri atas batuan dan salju. Puncaknya ke-9 tertinggi di dunia, sedangkan sisi selatannya merupakan the tallest mountain face on the planet. Nanga Parbat telah memakan korban 31 jiwa sebelum berhasil didaki sampai ke puncak oleh Herman Buhl in 1953.

3. Siula Grande, Peruvian Andes (20,814 ft.)



Tahun 1985, duet Joe Simpson and Simon Yates, yang pendakiannya diabadikan dalam buku dan film Touching the Void, berusaha memanjat sisi barat Siula Grande: sebuah pendakian vertikal yang belum pernah terselesaikan. Mereka sampai ke puncak, tapi Simpson jatuh saat turun dan kakinya patah. Yates berusaha menurunkan Simpson memakai tali namun kemudian tidak bisa melihatnya karena terhalang tebing. Setelah sejam berlalu, Yates memotong talinya. Ajaibnya, Simpson berhasil selamat meski jatuh 30 meter ke dalam celah salju. Dia bertahan hidup 3 hari dengan makan salju dan merayap selama lima mil kembali kemahnya. Simpson tiba di saat Yates baru saja akan meninggalkan kemah karena menganggapnya sudah meninggal.

4. K2, perbatasan Pakistan dan China (28,251 ft.)



Gunung tertinggi kedua di dunia, dikabarnya berisiko bagi pendaki perempuan. Perempuan pertama yang mencapai puncaknya adalah Wanda Rutkiewicz pada June 1986. Dalam 18 tahun selanjutnya, semua lima pendaki perempuan yang mencapai puncaknya telah tewas. Tiga tewas saat turun dari K2, dua tewas di gunung di dekatnya. Rutkiewicz juga tewas di gunung di dekatnya yakni Kangchenjunga tahun 1992. Kutukan ini akhirnya terpecahkan tahun 2004 oleh Edurne Pasaban, pendaki perempuan berusia 31 tahun dari Spanyol yang masih tetap hidup sampai sekarang.

5. Kangchenjunga, perbatasan India dan Nepal (28,169 ft.)



Tahun 1999, sebuah novel terbaru James Bond memuat petualangan agen ini di gunung tersebut. Gunung ini terkenal oleh longsor saljunya dan hawa dingin sehingga menjadi termasuk gunung mematikan.

6. The Matterhorn, perbatasan Swiss dan Italy (14,691 ft.)



Di zaman sekarang, bahaya paling besar di Matterhorn lebih karena popularitasnya. Para turis yang bersemangat sering membuat batu-batu runtuh dan menimpa para pemanjat di bawahnya.

7. Everest, perbatasan Nepal dan China (29,029 ft.)


Kalau melihat ketinggiannya, mungkin langsung dianggap gunung paling mematikan. Tapi ternyata Everest hanya memiliki tingkat kematian 9% padahal banyak yang mencoba memanjatnya setiap tahun.

8. Mt.Washington, New Hampshire (6,288 ft)



Terkenal oleh cuaca yang gampang berubah, angin kencang dan hujan es sehingga telah menewaskan 100 pendaki. Bahkan pernah mencatat rekor angin paling kencang yang berkecepatan 231 mil per jam.

9. Denali, Alaska (20,320 ft.)



Gunung ini sering dilanda gempabumi. Kombinasi ketinggian dan garis lintangnya membuat pendaki gampang sakit. Kadar oksigen di Denali jauh lebih rendah dibanding gunung yang ada di khatulistiwa.

10. Mt.Fuji, Japan (12,388 ft.)



Terkadang gunung yang rendah pun sering mematikan. Di kaki gunung Fuji ada kawasan yang disebut Lautan Pohon (Sea of Trees), sebuah kawasan penuh pohon pinus dan lainnya yang merupakan satu-satunya area yang tidak dilanda aliran lahar dalam letusan besar tahun 1707. Di Jepang, hutan itu juga disebut Aokigahara, dan sering dianggap sebagai tempat ideal untuk mati. Banyak kabar tentang kejadian aneh di sini, warga setempat menceritakan soal daerah bermagnet yang bisa membingungkan orang. Sementara populasi hutannya banyak dihuni ular, anjing liar dan kadang-kadang penampakan hantu.
                                                            Source: woamu.blogspot.com
Related Posts with Thumbnails

Blog Archive

Bloggers - Meet Millions of Bloggers Lifestyle Blogs - Blog Rankings