Showing posts with label Bencana. Show all posts
Showing posts with label Bencana. Show all posts

Saturday, December 18, 2010

Mekanisme Terjadinya Tornado


Tornado berasal dari Tronada (Spanyol), Tonare (Latin) dan kerap dikenal dengan istilah Twister dan Willy-willy. Di Indonesia Raja Angin ini disebut dengan Angin Putting Beliung atau Angin Leysus. Dari definisinya tornado dapat diartikan sebagai putaran yang kencang dari suatu kolom udara yang terbentuk dari awan cumuliform yang telah menyentuh tanah, biasanya tampak sebagai corong awan (funnel cloud) dan kerap disertai dengan badai angin dan hujan, petir atau batu es. Sebagian besar tornado disebabkan oleh badai guntur yang berputar dengan sirkulasi yang teratur yang disebut dengan mesosiklon.

Pembentukan tornado umumnya dapat dilihat pada hal- hal yang terjadi pada skala badai, di dalam dan sekitar mesosiklon. Perbedaan temperatur pada bagian tepi massa udara turun yang berada di sekitar mesosiklon (downdraft oklusi) erat kaitannya dengan pertumbuhantornado. Sebagian besar tornado dapat memiliki kecepatan lebih dari 480 km/jam, rata-rata 175 km/jam atau lebih (di sekitar pusat dapat mencapai 100-200 meter/jam), dengan ketinggian ± 75 m, diameter umumnya berkisar antara puluhan hingga ratusan meter. Umumnya terjadi pada siang hingga sore hari.

Di Amerika Serikat tornado terjadi antara pukul 15 – 21 LT. Pada belahan bumi utara sebagian besar tornado berpusar berlawanan dengan jarum jam, sebaliknya di belahan bumi selatan berpusar searah jarum jam. Waktu berlangsungnya Tornado biasanya hanya beberapa menit (kurang dari 10 menit), paling lama juga tidak lebih dari beberapa jam.

Tornado dapat terjadi dimana saja diseluruh tempat di dunia, namun pada daerah-daerah lintang tinggi terjadinya biasanya pada musim semi atau musim panas.Amerika Serikat memiliki intensitas kejadian angin tornado yang lebih tinggi dibandingkan area lainnya, khususnya di Amerika Barat-Tengah. Di Indonesia, tornado lebih banyak terjadi di sekitar Sumatera dan Jawa. Tornado dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis dan skala kerusakannya. Berdasarkan jenisnya, tornado dibedakan atas :

• Weak Tornado
Dikategorikan demikian karena waktu berlangsungnya sangat singkat antara 1 hingga 10 menit atau lebih, sebagian besar memiliki ukuran kecil dengan daya perusak yang kecil - umumnya berskala F0 – F1 - serta kecepatan angin kurang dari 112 mph. Persentase jumlah kematian yang diakibatkan tornado lemah kurang dari 5% dari keseluruhan kematian yang disebabkan tornado. Jenis ini paling banyak di antara jenis lainnya, mencakup 88% dari total keseluruhan kejadian tornado.

• Strong Tornado
Berlangsung selama 20 menit atau bahkan lebih, umumnya berukuran kurang lebih 10 m dengan daya perusak kuat - berskala F2 – F3 - serta kecepatan angin antara 113 - 206 mph. Kematian yang diakibatkan tornado ini mencakup hingga 30%. Tornado kuat mencakup 11% dari jumlah keseluruhan kejadian tornado.

• Violent Tornado
Tornado ini dapat berlangsung cukup lama melebihi 1 jam dan dapat melintasi bermil-mil sebelum menghilang dengan daya perusak yangsangat kuat - F4 – F5 - serta kecepatan angin lebih dari 205 mph. Jenis ini paling banyak merenggut korban jiwa mencapai 70% kematian dari keseluruhan. Sangat jarang terjadi sehingga hanya mencakup 1% dari jumlah keseluruhan kejadian tornado.

Dr. T. Theodore Fujita mengembangkan suatu metode untuk mengklasifikasikan tingkat kerusakan yang dihasilkan oleh tornado. Metode ini dikenal dengan nama Skala Fujita dengan deskripsi sebagai berikut :

• Skala F0
Kecepatan (Mph) : < 73 Tingkat kerusakan : Ringan, beberapa kerusakan pada cerobong asap; dahan pohon patah dan daun-daun tercabut; pohon-pohon berakar dangkal terdorong; papan- papan penunjuk rusak dan roboh.

• Skala F1
Kecepatan (Mph) : 73 - 112 Tingkat kerusakan : Sedang, atap rumah berhamburan; rumah semi-permanen bergeser bahkan roboh; pohon besar tumbang; kaca yang tidak kuat pecah; seng dan asbes beterbangan.

• Skala F2 Kecepatan (Mph) : 113 – 157 Tingkat kerusakan : Signifikan, atap rumah dari kayu dan tanah liat terbang; rumah semi-permanen roboh; mobil terbalik; pohon besar tercabut; misil ringan terpicu; mobil terangkat dari permukaan tanah.

• Skala F3
Kecepatan (Mph) : 158 – 206 Tingkat kerusakan : Berat, atap beterbangan dan dinding rumah permanen rusak parah bahkan roboh; kereta api terbalik; sebagian besar pohon di hutan tercabut;mobil besar terlempar dari permukaan tanah.

• Skala F4
Kecepatan (Mph) : 207 – 260 Tingkat kerusakan : Hebat, rumah permanen porak poranda; bangunan dengan pondasi semi-permanen tersapu; misil besar terpicu;mobil dan benda berat lainnya terlempar beterbangan; semua pohon beterbangan.

• Skala F5
Kecepatan (Mph) : 261 – 318 Tingkat kerusakan : Sangat hebat, rumah dengan kerangka yang baik pondasinya tersapu; Misil berukuran besar beterbangan di udara hingga 100 meter; fenomena luar biasa lain akan muncul.

Sumber: http://wahw33d.blogspot.com/2010/03/...n-tornado.html

Saturday, December 4, 2010

Indra Keenam Android untuk Jauhi Petaka


Indonesia sedang dirundung bencana. Setelah banjir bandang menyapu Wasior, Papua, ombak tsunami melanda Mentawai. Lalu Gunung Merapi pun meletus. Korban berjatuhan. Bila ditotal, kurang dari 500 orang tewas. Ratusan ribu orang mengungsi.

Di Jakarta, bencana adalah teman sehari-hari. Mulai banjir, kemacetan panjang, sampai kecelakaan lalu lintas.

Jatuhnya korban kadang-kadang dipicu oleh tak efektifnya sistem peringatan dini. Permasalahan inilah yang kemudian menginspirasi Andry, 29 tahun.

Andry membuat sebuah aplikasi untuk platform Android, yang sedang naik daun. "Bencana yang bertubi-tubi, banyak korban yang tak tertolong karena tidak ada peringatan sebelumnya," ujar Andry kepada iTempo di sela-sela pengumuman Indosat Wireless Innovation Contest pekan lalu.

Andry memberi nama aplikasinya Sixth Sense. Ia berharap aplikasi ini seperti indra keenam, mampu memberi peringatan sebelum ancaman terjadi.

Sixth Sense mengantarkan Andry, yang berasal dari Bandung, menjadi juara untuk kategori commerce, mengalahkan dua pesaingnya: Harry Prasetyo dan Putri Chairina.

Aplikasi ini mencakup beberapa macam bencana di sekitar kita, seperti banjir, kebakaran, tanah longsor, gempa, tsunami, dan gunung meletus. Aplikasi ini memungkinkan pengguna telepon seluler Android mendengar bunyi alarm yang nyaring dan getaran di ponsel ketika pengumuman bencana terjadi di suatu tempat.

Alarm itu akan memudahkan pengguna jika sedang berada di keramaian atau tengah lelap tertidur. Bila nada dering dimatikan, ponsel akan bergetar. Alarm ini akan terus berbunyi dan makin keras bunyinya sebelum dimatikan.

Input data tentang peringatan dini itu berasal dari lembaga yang berwenang untuk memberikan pengumuman terjadinya bencana yang sedang terjadi, seperti Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Lembaga resmi ini akan memasukkan jenis dan lokasi bencana kepada pengguna.

Lembaga itu bisa menggunakan server Andry untuk memasukkan data atau bisa juga aplikasi ini diintegrasikan dengan sistem peringatan dini lembaga yang dimaksud.

Lembaga ini pun bisa menggandeng operator dan mendorong informasi ke ponsel atau menyebarkan informasi itu kepada pengguna dengan pesan pendek (SMS). Jika akan disebarkan melalui operator, operator yang bersangkutan harus menyediakan jaringan dan memasang di base transceiver station tertentu.

Andry mengatakan, secara teknis teknologi di Android sudah banyak sehingga tak sulit untuk mengembangkan aplikasi seperti itu. Ia memilih aplikasi untuk sistem operasi Android terbaru, yaitu Android 2.2 atau Froyo.

Dengan Froyo, kata Andry, aplikasi bisa menjangkau layanan pesan dari cloud ke perangkat. Artinya, teknologi ini bisa mendorong data melalui Internet ke perangkat atau ponsel. Untuk penyebaran informasi ini hanya dibutuhkan maksimal 1 kilobita per pengguna. Pengguna ponsel akan menerima notifikasi dalam waktu yang singkat.

“Paling cuma selisih dua detik setelah data masuk ke server langsung bisa diterima pengguna,” ujarnya.

Jangkauan peringatan atau notifikasi itu, kata Andry, tergantung jenis bencana. Sebagai contoh, untuk bencana banjir bisa disebarkan hingga radius 10 kilometer. Untuk memverifikasi posisi pengguna bisa diketahui melalui GPS atau kontak terakhir dari si pengguna. Yang agak susah jika pengguna tidak mengaktifkan GPS-nya.

Aplikasi ini memang baru di ajang kontes dan belum diaplikasikan segera. Andry juga ingin mengembangkan aplikasi ini untuk platform ponsel yang lain. “Supaya bisa dinikmati lebih luas," katanya.

Untuk merancang aplikasi ini, Andry membutuhkan waktu hampir dua pekan. Dia sempat mengalami hambatan saat memasukkan kode dan masuk ke otorisasi cloud. “Tapi jika sudah terbiasa sih mudah sebenarnya,” ujarnya.

Sumber:http://www.tempointeraktif.com/hg/it/2010/12/04/brk,20101204-296737,id.html

Friday, November 26, 2010

Bagaimana Cara Menghitung Gempa?


Jakarta – Skala Richter (SR) sebenarnya bukanlah alat melainkan formula matematika. Lalu bagaimana gempa diukur secara lebih akurat?.

Terdapat banyak skala modern yang bisa digunakan untuk menghitung besarnya gempa, dan yang paling umum adalah momen besar. Hal ini memungkinkan pengukuran gempa lebih tepat dari SR.

Jaringan stasiun pemantauan geologi (seismograf) memungkinkan ilmuwan menghitung waktu gempa, lokasi dan besarnya. Seismograf merekam jejak zigzag yang menunjukkan bagaimana tanah bergetar di bawah instrumen. Seismograf sensitif dapat mendeteksi gempa kuat dari sumber manapun di dunia.

Menurut US Gelogical Survey (USGS), berdasarkan besarnya, gempa memiliki kelasnya masing-masing. Peningkatan satu angka, katakanlah 5,5 menjadi 6,5, berarti besar gempa 10 kali lebih besar.

Sementara gempa diklasifikasikan dalam beberapa tingkatan. Hebat, jika besar gempa lebih dari atau sama dengan 8,0. ini Berpotensi besar menghancurkan. Mayor, besar gempa antara 7-7,9 dan berpotensi menimbulkan kerusakan parah. Kuat, besar gempa antara 6-6,9. Berpotensi menimbulkan kerusakan besar.

Moderat, besar gempa antara 5-5,9. Berpotensi menimbulkan kerusakan cukup besar. Ringan, besar gempa antara 4-4,9. Berpotensi menimbulkan kerusakan moderat. Minor, besar gempa antara 3-3,9. Mikro, besar gempa kurang dari 3. Umumnya tak dirasakan orang.

Sumber:http://teknologi.inilah.com/read/detail/1007992/bagaimana-cara-menghitung-gempa

Friday, November 5, 2010

Makin Halus Abu Vulkanik, Makin Bahaya

 Abu vulkanik akibat letusan Gunung Merapi yang menghujani kawasan Yogyakarta dan sekitarnya semakin menebal. Ini jelas menjadi ancaman serius bagi warga yang bermukim di sana.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), paparan abu vulkanik sangat membahayakan warga yang mengirupnya. Ancaman paling umum adalah gangguan pernapasan.

Berdasar paparan WHO saat terjadi letusan Gunung Eyjafjallajökull di Islandia lalu, abu vulkanik gunung berapi umumnya terdiri dari partikel fragmen batuan halus, mineral, dan kaca dengan karakter keras, kasar, korosif dan tidak larut dalam air.

Partikel abu sangat kecil sehingga mudah tertiup angin hingga ribuan kilometer. Yang paling berpotensi merusak tubuh adalah partikel abu terkecil yang mencapai kurang dari 1/100 milimeter. Ini berbahaya karena mudah menembus masker kain dan masuk ke paru-paru.

Seseorang dengan bronkhitis, emfisema dan asma disarankan mengurangi aktivitas di luar ruang karena paparan abu vulkanik bisa memperparah gangguan kesehatan.

WHO mengatakan, konsentrasi abu vulkanik setiap gunung berapi berbeda, tergantung kondisi alam seperti suhu udara dan angin. "Saran kami adalah mendengarkan insruksi kesehatan pejabat setempat," kata Dr Maria Neira, Direktur Department Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan WHO.

"Jika mengalami iritasi atau sakit di tenggorokan dan paru-paru, pilek, atau mata gatal, sebaiknya segera kembali rumah dan membatasi kegiatan di luar ruang," Neira menambahkan.

Selain partikel berbahaya, abu vulkanik juga berpotensi mengandung gas belerang dioksida dalam kadar rendah. Itulah mengapa ketika mulai mencium aroma belerang, sangat disarankan segera menjauh dari kawasan tersebut.(vivanews.com)

Thursday, November 4, 2010

Makanan Kedaluwarsa 5 Bulan Dikirim ke Mentawai


PADANG – Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah pepatah yang pantas dialamatkan kepada korban gempa dan tsunami di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Betapa tidak, sudah tertimpa musibah, mereka juga tidak bisa menyantap makanan yang didistribusikan pemerintah. Sebab, sebagian dari makanan tersebut sudah tidak layak dikonsumsi alias kedaluwarsa.

“Kami menemukan banyak makanan yang sudah kedaluwarsa. Bahkan batas waktunya sudah lima bulan lalu,” ujar seorang relawan bernama Ferdinand kepada okezone di Padang, Kamis (4/11/2010).

Menurutnya, makanan yang diketahui sudah kedaluwarsa tersebut adalah mi instant, ikan sarden kaleng, serta makanan siap saji lainnya. Makanan kedaluwarsa tersebut berada di Desa Malakopa, Sikakap. Ferdinand mengaku sudah melaporkan hal tersebut kepada pihak terkait.

Menyikapi hal tersebut, Wakil Bupati Kepulauan Mentawai Yudas Sabagalet membantah jika makanan untuk para pengungsi sudah tak layak konsumsi. Namun, pihaknya berjanji akan tetap mengecek kondisi makanan yang diperuntukan para pengungsi.

“Untu makanan di Sipora sudah kami cek dan tidak ada yang kedaluwarsa. Nanti kami akan cek makanan yang ada di Sikakap,” tutupnya.(Okezone.com)

Tuesday, November 2, 2010

Ini Dia Beda Jepang-RI Antisipasi Tsunami


Jakarta- Jepang dan Indonesia memiliki persamaan yaitu terletak di kawasan rawan bencana, baik tsunami dan gempa. Bedanya, Jepang menanggulangi bencana dengan optimal. Caranya?

Jepang memiliki beberapa organisasi yang menangani bencana alam diantaranya Japan Metorological Agency (JMA), Geology Survey Japan (GSJ) dan Earth Remote Sensing Data Analysis Center (ERSDAC).

Sebagai badan utama, JMA mengoperasikan jaringan pengamatan gempa berupa 200 alat seismograf dan 600 seismik intensif. Mereka juga mengumpulkan data dari 3.600 alat pengukur seismik yang dikelola pemerintah daerah dan National Research Institute for Earth Science and Disaster Prevention (NIED). Data ini juga masuk di bagian Earthquake Phenomena Observation System (EPOS) di Tokyo dan Observatorium Meteorologi di distrik Osaka.

Ketika gempa terjadi, JMA segera mendapatkan informasi mengenai hiposenter, magnitudo gempa dan intensitas seismik. Jika intensitas gempa lebih besar dari tiga, lembaga ini segera mengeluarkan laporan gempa. Informasi biasanya keluar kurang dari setengah menit setelah gempa.

Selanjutnya, informasi diberikan kepada pejabat pencegahan bencana melalui jaringan komunikasi khusus untuk mencapai masyarakat di sektiar gempa lewat pemerintah daerah dan media. Bagi Jepang, informasi ini berperan sangat penting untuk memulai operasi penyelamatan terkait gempa dan dampak lanjutan, tsunami misalnya. Intensitas gempa di Jepang menggunakan skala 1 sampai 7 dengan nilai 7 tertinggi.

Sistem Peringatan Dini Gempa Jepang memberikan pengumuman perkiraan intensitas seismik dan estimasi perkiraan waktu kedatangan gerak pokok pada saat gempa awal terjadi. Estimasi ini didasarkan pada analisis segera fokus gempa dan gelombang besar dengan menggunakan data yang diperoleh dari seismograf di dekat pusat gempa.

Sistem Peringatan Dini Gempa ditujukan untuk mengurangi kerusakan gempa terkait dengan tindakan pencegahan yang memungkinkan seperti segera memperlambat kereta, mengendalikan lift untuk menghindari bahaya dan memungkinkan orang untuk dengan cepat melindungi diri di berbagai lingkungan seperti pabrik, kantor, rumah dan dekat tebing.

Untuk tsunami sendiri, setelah Gempa, JMA langsung memperkirakan kemungkinan tsunami dari data observasi seismik. Jika tsunami mungkin terjadi di daerah pesisir, JMA mengeluarkan peringatan Tsunami sekitar dua menit setelah gempa. Jika tsunami terjadi di wilayah yang jauh, JMA akan melakukan koordinasi langsung dengan Pacific Tsunami Warning Center di Hawaii.

Di Jepang, wilayah paling berbahaya adalah kawasan gempa Tokai, biasanya gempa berkekuatan di atas 8 SM. Ini terletak di daerah Suruga Bay. Mekanisme yang mereka lakukan sangat terperinci di mana setiap badan harus tahu seluruh kejadian saat berlangsung.

Persiapan detil memang harus dilakukan mengingat Jepang memiliki 108 gunung vulkanik aktif dengan sekitar 15 gempa vulkanik setiap tahun.(Inilah.com)

Friday, October 29, 2010

RI Ranking 2 Jumlah Korban Bencana Terbesar

 Indonesia menempati peringkat kedua dalam daftar jumlah korban tewas terbanyak akibat bencana alam di Asia-Pasifik. Selama kurun 20 tahun, berbagai bencana alam di negeri ini juga telah menimbulkan kerugian ekonomi sedikitnya US$22,5 miliar.

Data tersebut tercantum di laporan "The Asia Pacific Disaster Report 2010" yang disusun oleh Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk kawasan Asia dan Pasifik (ESCAP) dan Badan PBB Urusan Strategi Internasional untuk Penanggulangan Bencana (UNISDR). Dipublikasikan Selasa, 26 Oktober 2010, ini merupakan kali pertama PBB menyusun laporan khusus mengenai bencana alam di Asia-Pasifik.

Laporan itu, seperti yang dipaparkan di laman ESCAP, merinci daftar negara di Asia Pasifik yang mengalami bencana alam selama periode 1980-2009. Bencana alam itu baik berupa, banjir, kekeringan, letusan gunung berapi, tanah longsor, dan lain-lain.

Indonesia menempati posisi keempat dalam jumlah kasus bencana alam di Asia-Pasifik. Selama 1980-2009, negeri ini mengalami 312 kasus. Peringkat pertama dihuni China (574 kasus), kemudian disusul India (416), Filipina (349), dan Indonesia.

Namun, berdasarkan peringkat jumlah korban tewas terbanyak, Indonesia menempati posisi kedua, di bawah Banglades. PBB mendata sedikitnya terdapat 191.164 jiwa yang tewas akibat bencana alam di Indonesia selama 1980-2009. Di Banglades, bencana alam dalam 20 tahun merenggut nyawa 191.650 jiwa.

Untuk kerugian ekonomi akibat bencana alam, Indonesia berada di peringkat ke delapan. Selama 1980-2009, negeri ini menderita kerusakan ekonomi senilai US$22,5 miliar. Penentuan nominal kerugian itu beradasarkan pada riset harga PBB tahun 2005. Peringkat pertama diduduki China, yaitu senilai US$322 miliar.

Sedangkan pada katagori jumlah korban selamat yang menderita kerugian akibat bencana, Indonesia berada di posisi kesembilan. Selama 1980-2009, sedikitnya terdapat 18 juta warga di Indonesia yang menanggung derita akibat bencana kendati mereka selamat. Peringkat pertama ditempati China.

Laporan ESCAP-UNISDR itu juga mengungkapkan bahwa negara-negara di Asia-Pasifik empat kali lebih rentan dihantam bencana alam ketimbang di Afrika, bahkan 25 kali lebih rentan ketimbang di Eropa dan Amerika Utara.

Laporan itu juga menilai bahwa kerugian akibat bencana alam diperparah oleh kemiskinan. Tingkat kerentanan lebih besar diderita warga miskin dan ini berasal dari ketimpangan sosial-ekonomi dan lingkungan alam.

"Sepanjang ketimpangan itu tidak diatasi, mereka yang terus-menerus berisiko dihantam bencana alam akan tetap miskin dan kian rentan pula diterpa bencana. Situasi ini menciptakan lingkaran setan sehingga sulit untuk keluar," kata Noeleen Heyzer, Sekretaris Eksekutif ESCAP, dalam pernyataan bersama dengan Magaretha Wahlstrom, Utusan Khusus PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana.(vivanews.com)

Letusan Gunung Paling Dahsyat di Dunia

Letusan Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Yogyakarta pada Selasa lalu ternyata tidak seberapa bila dibandingkan dengan letusan gunung-gunung lain.

Sebuah laman yang mempublikasikan gunung-gunung berapi di dunia, famousvolcanoes.net mencatat letusan gunung terdahyat di dunia. Berikut gunung-gunungnya:

Vesuvius, ItaliaGunung VesuviusDi antara gunung api dengan letusan terdahsyat diantaranya Vesevius di Napoli, Italia. Letusan pertamanya terjadi pada tahun 79 Masehi yang mengubur kota Pompeii dan Herculaneum dengan lava panas. Letusan yang terjadi lebih dari 20 jam itu menewaskan lebih dari 3 ribu orang.

Setelah itu, Vesuvius berkali-kali meletus. Salah satunya pada 1631 yang menewaskan 4 ribu orang. Sedangkan terakhir meletus pada 1944.

Tambora, IndonesiaFoto lawas dampak letusan Tambora di Amerika SerikatSaat Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat meletus pada April 1815, suaranya terdengar hingga Sumatera. Abu vulkaniknya jatuh hingga Kalimantan, Sulawesi, Jawa, dan Maluku. Lebih dari 71 orang meninggal akibat letusan tersebut.

Panas yang menyembur melubangi atmosfer dan menyebabkan perubahan iklim sementara. Saat itu dikenal dengan tahun tanpa panas. Dua badai salju besar pada Juni terjadi di Kanada. Kondisi ini menyebabkan gagal panen di sejumlah benua dan memicu musibah kelaparan terburuk di awal abad ke 19.

Krakatau, IndonesiaAnak Gunung Krakatau Gunung yang berada di Selat Sunda Provinsi Lampung ini meletus pada 1883. Suaranya terdengar hingga puluhan ribu kilometer. Kedahsyatan ledakan diperkirakan mencapai ribuan kali bom atom yang diledakkan di Hirosima dan Nagasaki, Jepang.

Tak hanya awan panas, letusan ini juga mengakibatkan tsunami besar di Sumatera dan Jawa. Lebih dari 36 ribu orang  meninggal saat itu.

St Helens Gunung ini paling terkenal akan letusannya yang terjadi pada 18 Mei 1980. Letusan tersebut merupakan letusan gunung berapi terparah baik dari segi kekuatan letusan maupun kerugian ekonomi sepanjang sejarah Amerika Serikat.

57 orang tewas, dan puncak gunung berkurang dari 2.950 meter menjadi 2.550 m. Lokasi letusan kini menjadi kawasan Monumen Nasional Gunung Berapi Gunung St. Helens.

Mauna LoaAdalah gunung berapi teraktif di dunia. Salah satu dari lima gunung ini membentuk Pulau Hawaii, Amerika Serikat, di Samudera Pasifik. Sejak 1843, Mauna Loa telah meletus 33 kali, terakhir pada tahun 1984.(vivanews.com)

Wednesday, October 27, 2010

10 Gempa Paling Dahsyat Dalam Sejarah Dunia

  Gempa bumi berkekuatan 7,2 Skala Richter yang disusul tsunami 1,5 meter mengguncang kepulaun Mentawai pada Senin malam lalu. Air laut masuk ke daratan sejauh 600 meter. Jumlah korban tewas diperkirakan mencapai ratusan jiwa. Kondisi pulau yang sulit dijangkau dan ganasnya ombak Samudera Hindia membuat petugas penyelamat kesulitan mengevakuasi korban.

Kebanyakan gempa bumi terjadi akibat pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itulah gempa bumi akan terjadi.

Berikut ini gempa yang paling dahsyat yang pernah terjadi dalam sejarah dunia.

1556: Shaanxi, Cina
Gempa yang paling mematikan sepanjang masa terjadi di Sahaanxi, Cina. Gempa ini terjadi hampir 450 tahun yang lalu. Berpusat di provinsi Shaanxi China tengah, gempa 1556 merenggut nyawa beberapa 830.000 orang. Gempa ini berkekuatan 8,0 SR Richter.

1976: Tangshan, Cina
Cina kembali berduka. Gempa besar mengguncang, gempa bumi yang paling mematikan kedua pada catatan, tahun 1976 Great Gempa Tangshan, yang melanda di timur laut negara itu. laporan menyebutkan korban tewas mencapai 700.000, orang. Jumlah ini tidak jelas karena pemerintah Cina menolak bantuan internasional.

2004: Tsunami Samudera Hindia
Pada 26 Desember 2004 gempa berkekuatan 9,2 magnitude mengguncang samudera hindia. Energi yang dikeluarkan dalam gempa ini setara 23.000 bom atom. Sebanyak 11 negara menjadi korbannya. Termasuk Aceh, Indonesia. Menurut laporan pemerintah Amerika gempa ini menelan korban jiwa 227.898 jiwa.

1920: Haiyuan, Cina
Pada 16 Desember 1920 gempa mengguncang Haiyuan, Cina. Gempa ini berkekuatan 7,8 SR. Sijihe, kota di Xiji terkubur. Korban dalam gempa ini diperkirakan 200.000 jiwa.

1923: Kanto, Jepang
Menjelang siang pada 1 September 1923, sebuah gempa berkekuatan 7,7 SR menggoyang wilayah Tokyo-Yokohama. Gempa ini keudian disusul tsunami setinggi 12 meter. Sebanyak 90 persen bangunan di Yokohama luluh lantak.
Gempa ini merenggut 143.000 warga Jepang.

1948: Turkmenistan
Dalam hitungan menit, gempa berkekuatan 7,7 SR mengguncang kota Ashgabat di bulan Oktober 1948. Korban yang meninggal dalam peristiwa ini berjumlah 110.000 jiwa.

2008: Sichuan, Cina
Sebanyak 87.000 orang tewas dalam gempa berkekuatan 7,0 SR ini. Gempa ini mengguncang provinsi Sichuan, Cina. Hampir 10.000 siswa meninggal terkena reruntuhan bangunan sekolah juga terperangkap di dalam reruntuhan bangunan.

2005: Kashmir
Oktober 2005. Gempa berkekuatan 7,6 SR menggoyang Kashmir, wilayah sengketa yang terletak di perbatasan India dan Pakistan. Sebanyak 79.000 warganya tewas. Jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal.

1908: Messina, Italia
Gempa berkekuatan 7,5 SR terjadi di Messina, Italian. Sebanyak 80.000 orang tewas dalam peritiwa ini, belasan kota hancur.

1970: Chimbote, Peru
Gempa bumi berkekuatan 7,9 SR mengguncang Peru pada 31 Mei 1970. Peristiwa ini menelan korban mencapai 70.000 jiwa, sebanyak 800.000 warga kehilangan tempat tingal.(TempoInteraktif.com)

Saturday, October 2, 2010

5 Bencana Alam yang Membuat Anda Tercengang

1. Tornado Freeze


2. Tsunami Sand - Iraq


3. Fire Forest


4. Tsunami Storm Second - Texas


5. Storm


sumber: http://juandry.blogspot.com/2009/12/5-bencana-alam-yang-bikin-anda.html
Related Posts with Thumbnails

Blog Archive

Bloggers - Meet Millions of Bloggers Lifestyle Blogs - Blog Rankings